Terus..apa memang itu inti dari pernikahan? Apa memang resepsi is the main thing dari pernikahan itu sendiri, sampe-sampe kami harus ngerelain tabungan kami kekuras cuma buat perayaan satu hari? Of course not!!! Ijab kabul dan resepsi, menurut saya adalah pembuka jalan. Inti pernikahan yang sesungguhnya justru baru akan dimulai setelah ijab kabul dan resepsi itu selesai, bukan?
No wonder lah, kalo pikiran "sayang uang" akhirnya hinggap di diri kami sekarang. Gimana nggak, sebage calon pasangan suami istri (amiin ya Rabb), sampe sekarang kami masih belum punya rumah buat kami tinggali nanti, masih belum punya tabungan masa depan buat keluarga baru kami. Apalagi setelah tahap kalkulasi itu..tabungan yang kami kumpulin sekian lama..justru kayaknya bakal abis buat satu hari aja. Ya..resepsi..perayaan satu hari..sodara-sodari. Hhmmmmh.. *thinking*
Setelah itung-itungan budget sambil memikirkan masa depan kami, kalo boleh jujur sih saya jadinya malah pengen nikah sederhana aja deh. Yang penting sah menurut agama, mengikuti rukunnya, sah juga di mata negara dengan mendaftarkannya di catatan sipil, dan tentu..mengabarkan berita gembira tersebut ke keluarga besar dan kerabat lewat selametan sederhana. That's it. Karena gimana pun..saya kan ga boleh tutup mata dari apa yang akan kami hadapi setelah menikah. Tuntutan hidup sebagai keluarga baru nanti tentunya cuma bakal kami emban berdua bukan? Mentally..an of course financially...
Tapi niih yaa..gimana pun juga..sebage anak perempuan tertua di rumah, yang lahir di keluarga cukup besar..rasanya saya gabisa egois gitu aja ya. Rasanya gabisa kalo segitu "sayangnya" ngeluarin uang sampe-sampe kami mengabaikan orang-orang penting lain di dalam kehidupan kami. Orang tua, misalnya. Yah..sedikitnya pasti ada keinginan dalam diri mereka untuk menjamu keluarga besar, kerabat, dan sahabat..di kali pertama mereka menikahkan putrinya. So, tentunya kami harus rela kalo fokus kami untuk masa depan itu sedikit tersita dengan perayaan satu hari tadi. Kami juga harus ikhlas kalo uang yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit itu akhirnya terkuras untuk biaya resepsi. Dengan begitu, setidaknya kami bisa membahagiakan mereka di akhir masa lajang kami..tanpa harus merepotkan mereka apalagi harus memikirkan biaya itu ini untuk pernikahan kami. (Amin)
Well..we simply took it as our fault. Mungkin nyisihin duitnya kurang banyak yaak..mungkin kita nabungnya kurang rajin..mungkin juga jangka waktu nabungnya terlalu singkat..sampe-sampe mau gak mau urusan masa depan jadi urutan berikutnya setelah keperluan resepsi. Hiks.. ;-(
Tapi beruntung..alhamdulillah..dalam situasi seperti ini selalu ada Dodo yang menguatkan saya dalam setiap langkah kami. Kami akan beriktiar semampu kami..untuk masa depan kami..dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Bismillahirahmanirrahim..apa pun itu yang kami "korbankan"..dengan modal keikhlasan..dengan harapan bisa membahagiakan orang tua dan orang-orang yang kami kasihi..dengan cita-cita kami membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah..semoga pernikahan kami kelak akan membawa berkah bagi semua. Amin ya Rabbal alamin.. ;-)
Minta doanya yaa.. :-)
No wonder lah, kalo pikiran "sayang uang" akhirnya hinggap di diri kami sekarang. Gimana nggak, sebage calon pasangan suami istri (amiin ya Rabb), sampe sekarang kami masih belum punya rumah buat kami tinggali nanti, masih belum punya tabungan masa depan buat keluarga baru kami. Apalagi setelah tahap kalkulasi itu..tabungan yang kami kumpulin sekian lama..justru kayaknya bakal abis buat satu hari aja. Ya..resepsi..perayaan satu hari..sodara-sodari. Hhmmmmh.. *thinking*
Setelah itung-itungan budget sambil memikirkan masa depan kami, kalo boleh jujur sih saya jadinya malah pengen nikah sederhana aja deh. Yang penting sah menurut agama, mengikuti rukunnya, sah juga di mata negara dengan mendaftarkannya di catatan sipil, dan tentu..mengabarkan berita gembira tersebut ke keluarga besar dan kerabat lewat selametan sederhana. That's it. Karena gimana pun..saya kan ga boleh tutup mata dari apa yang akan kami hadapi setelah menikah. Tuntutan hidup sebagai keluarga baru nanti tentunya cuma bakal kami emban berdua bukan? Mentally..an of course financially...
Tapi niih yaa..gimana pun juga..sebage anak perempuan tertua di rumah, yang lahir di keluarga cukup besar..rasanya saya gabisa egois gitu aja ya. Rasanya gabisa kalo segitu "sayangnya" ngeluarin uang sampe-sampe kami mengabaikan orang-orang penting lain di dalam kehidupan kami. Orang tua, misalnya. Yah..sedikitnya pasti ada keinginan dalam diri mereka untuk menjamu keluarga besar, kerabat, dan sahabat..di kali pertama mereka menikahkan putrinya. So, tentunya kami harus rela kalo fokus kami untuk masa depan itu sedikit tersita dengan perayaan satu hari tadi. Kami juga harus ikhlas kalo uang yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit itu akhirnya terkuras untuk biaya resepsi. Dengan begitu, setidaknya kami bisa membahagiakan mereka di akhir masa lajang kami..tanpa harus merepotkan mereka apalagi harus memikirkan biaya itu ini untuk pernikahan kami. (Amin)
Well..we simply took it as our fault. Mungkin nyisihin duitnya kurang banyak yaak..mungkin kita nabungnya kurang rajin..mungkin juga jangka waktu nabungnya terlalu singkat..sampe-sampe mau gak mau urusan masa depan jadi urutan berikutnya setelah keperluan resepsi. Hiks.. ;-(
Tapi beruntung..alhamdulillah..dalam situasi seperti ini selalu ada Dodo yang menguatkan saya dalam setiap langkah kami. Kami akan beriktiar semampu kami..untuk masa depan kami..dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Bismillahirahmanirrahim..apa pun itu yang kami "korbankan"..dengan modal keikhlasan..dengan harapan bisa membahagiakan orang tua dan orang-orang yang kami kasihi..dengan cita-cita kami membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah..semoga pernikahan kami kelak akan membawa berkah bagi semua. Amin ya Rabbal alamin.. ;-)
Minta doanya yaa.. :-)
***
